Tragedi Lion di Tanjung Pakis

Karawang (ANTARA News) – Udara di kawasan Pantai Tanjung Pakis, Kecamatan Pakis Jaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat terasa sejuk saat Usman (58) terbangun dari tidurnya, Senin (29/10) pagi.

Jarum jam belum menunjuk angka tujuh, tetapi kesibukan mulai terlihat di beberapa lapak penjual makanan dan minuman instan di destinasi wisata pesisir Kabupaten Karawang tersebut.

Di lapak sederhana milik pemerintah daerah setempat, ayah dua anak yang bertubuh gempal dan berkulit hitam itu bergegas bangkit dari balai bambu berukuran 2×1,5 meter persegi dan membangunkan Dacih (31), sang isteri.

Dentuman suara keras di sekitar perairan Tanjung Karawang yang berjarak sekitar 30 menit dari Pantai Tanjung Pakis membuat Usman terkejut sekaligus heran, karena tidak biasanya suara yang serupa bom terdengar di pesisir pantai sepanjang tujuuh kilometer dengan luas 350 hektare.

Tidak hanya Usman, seluruh penghuni kios di perkampungan nelayan itu pun jadi ikut-ikutan sibuk mencari kabar, dari mana gerangan sumber suara berasal.

Kegelisahan Usman pun semakin menjadi saat awan cerah berganti pekat menyelimuti hampir separuh langit di kawasan pesisir dalam waktu singkat akibat kepulan asap hitam yang membumbung ke langit.

Pagi itu merupakan hari pertama Pesawat Lion Air JT 610 tujuan Jakarta-Pangkal Pinang dikabarkan hilang kontak sekitar pukul 06.33 WIB.

Betapa terkejutnya Usman saat beberapa jam kemudian iring-iringan mobil bersirine darurat masuk hingga depan kiosnya berikut ratusan personel berseragam SAR, TNI, Polri, Palang Merah Indonesia (PMI), serta relawan.

Sedikitnya tujuh tenda darurat pun mulai berdiri berikut pengerahan 44 alutsista perairan di dalam area garis polisi yang menseterilkan zona darurat dari lalu lalang wisatawan maupun warga sekitar.

Kepada petugas Disaster Victim Investigation (DVI) Polda Jawa Barat, Usman menanyakan maksud kehadiran mereka tepat di sebelah kiosnya.

“Pesawat Lion Air tipe terbaru Boeing 737 Max 8 dengan 189 penumpang dan awak pesawat mengalami kecelakaan,” ujar salah satu petugas DVI.

Satu per satu alutsista mulai bergerak berupa dua helikopter jenis HR-1519 dan HR-1301 dari Kepolisian Daerah Jawa Barat yang berseliweran di langit pantai, disusul kemudian 44 kapal berbagai jenis dari unsur laut serta delapan ambulans dari unsur darat.

Total 858 personel yang terdiri atas Basarnas 201 orang, TNI AD 40 orang, TNI AL 456 orang, TNI AU 15 orang, Polri 58 orang, Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai Indonesia 30 orang, Bea Cukai 18 orang, PMI 30 orang, dan Badan Keamanan Laut Indonesia 10 orang bergabung dalam satu wadah, Tim Evakuasi Gabungan.

Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) mengirimkan KRI Rigel-933 ke lokasi di mana pesawat Lion Air diperkirakan jatuh di perairan Tanjung Karawang untuk melakukan pemetaan lokasi jatuhnya badan pesawat.

Kapushidrosal Laksamana Muda TNI Harjo Susmoro mengatakan KRI Rigel melakukan deteksi kedalaman full covered di posisi jatuhnya pesawat Lion Air pada koordinat 5′ 46.15000` S-107 7.16000` E dan area sekitarnya dengan menggunakan Multibeam Echosounder EM2040 dan “Side Scan Sonar” untuk menggambarkan kondisi pesawat dengan tiga dimensi.

KRI Rigel juga menggunakan High Precision Acoustic Positioning (Hipap) dengan Frekuensi A dan B, frekuensi itu seperti yang ada di kotak hitam. KRI Rigel adalah kapal Bantu Hidro-Oseanografi (BHO) dengan komandan Letkol Laut Agus Triyana.

KRI Rigel 933 merupakan kapal jenis Multi Purpose Research Vessel (MPRV) dengan peralatan survei canggih di antaranya Side Scan Sonar, Automatic Weather Station, Echosounder Multibeam laut dalam dan Singlebeam, Peralatan Conductivity Temperatureand Depth (CTD), serta Gravity Cores.

KRI Rigel juga dilengkapi Boat Sounding (SV) yang dilengkapi dengan peralatan setara berkemampuan melakukan pencarian serpihan badan pesawat di dekat pantai.

Basarnas selaku koordinator Tim Evakaasi Gabungan menjadikan Kapal Negara Basudewa sebagai area pangkalan laut yang bersebelahan dengan Kapal Baruna Jaya milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Tim Polda Jawa Barat memanfaatkan alat fiberacope atau pendeteksi gelombang suara dan visual dari dasar laut berkedalaman hingga 50 meter yang menempel pada lambung kapal.

TNI Angkatan Laut melibatkan total 52 prajurit Komando Pasukan Katak (Kopaska) berikut perangkat robot remote operated vehicle di bawah komando Kopaska Koarmada 1 Kolonel Laut Johan Wahyudi.

Panemuan

Kepala Kepolisian Resor Karawang AKBP Slamet Waloya mengungkap penemuan sejumlah potongan tubuh manusia di koordinat jatuhnya pesawat pada hari perdana pencarian korban.

Sejumlah puing yang diduga kuat bagian badan pesawat lengkap dengan perlengkapan kursi pelampung dan barang bawaan penumpang pun dikemas dalam kantong berwarna hitam setelah diangkut dari permukaan laut.

Objek yang diduga berkaitan dengan kecelakaan pesawat nahas itu kemudian dievakuasi menuju ke daratan, yakni Posko Utama di Tanjung Priok, Jakarta serta Posko Taktis di Pesisir Tanjung Pakis, Karawang.

Pesisir Tanjung Karawang yang diapit oleh dua posko itu membuat tim lebih memilih mengevakuasi jasad serta material pesawat menuju daratan Tanjung Priok.

Alasannya, perairan Tanjung Pakis yang relatif lebih dekat dari titik pesawat memiliki daratan yang dangkal akibat sedimentasi lumpur Sungai Citarum sehingga membuat kapal besar sulit berlabuh.

Pimpinan Humas Kantor SAR Bandung Joshua Banjarnahor mengatakan selain situasi perairan Tanjung Pakis yang dangkal berkisar 50 meter dari dasar laut, situasi kemacetan lalu lintas jalan tol menuju Jakarta juga menjadi pertimbangan dipilihnya Tanjung Priok sebagai sentral pemilihan objek pesawat.

Menurut dia, Tim Evakuasi Gabungan membagi area pencarian menjadi sembilan zona mulai dari perairan Tanjung Karawang hingga wilayah Indramayu dan Subang.

Kencangnya arus bawah air serta embusan angin kencang membuat sedimentasi lumpur naik ke permukaan hingga mengganggu jarak pandang tim selam maupun penyisir permukaan.

Hingga hari keempat pencarian, Kamis (1/11), sedikitnya 56 potongan tubuh yang diduga korban kecelakaan pesawat berhasil dievakuasi dari perairan.

Tim DVI Polri yang bersiaga di Rumah Sakit Polri Kramat Jati mencocokkan potongan tubuh korban dengan 152 sampel antemortem dari keluarga korban.

Dari 56 kantong jenazah yang sudah diambil sampel DNA, tercatat ada 238 potongan tubuh yang diduga jasad korban, namun baru satu korban yang teridentifikasi atas nama Jannatun Cintya Dewi kelahiran Sidoarjo pada 12 September 1994 dan beralamat di Dusun Prumpon RT001/ RW001 Kecamatan Sukodono, Jawa Timur.

Kotak Hitam

Selain fokus pada pencarian jasad korban, Tim Evakuasi Gabungan pun mengemban tugas mencari tubuh pesawat yang hilang berikut kotak hitam guna mengungkap insiden kecelakaan sejumlah pejabat negara yang menumpang pesawat nahas itu.

Titik terang keberadaan kotak hitam yang hilang kali pertama diungkap oleh Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dalam siaran pers di Jakarta, Rabu (31/10) malam, berdasarkan bunyi “ping” yang ditangkap alat sonar pada kedalaman 32 meter di Tanjung Karawang.

Adalah Sertu Marinir Hendra Syahputra dari Kesatuan Taifib Korps Marinir yang menjadi sorotan publik atas jerih payahnya menemukan kotak hitam yang hilang di perairan Karawang.

Meski sempat berputus asa mencari kotak hitam akibat derasnya arus bawah laut dan angin kencang, berkat tekad dan keyakinan yang kuat, alat perekam kejadian itu berhasil ditemukan pada kedalaman 35 meter di koordinat S 05 48 48.051-E 107 07 37.622 dan koordinat S 05 48 46.545-E 107 07 38 Tanjung Karawang.

Melalui titik cerah penemuan kotak hitam ini, membuat sejumlah kalangan optimistis kasus kecelakaan pesawat bertipe Boeing 737 Max 8 dapat segera terungkap dan mengakhiri episode pencarian korban yang mungkin saja masih terjebak di badan pesawat.*

Baca juga: Tim SAR gabungan disebar di 2 sektor

Baca juga: BPPT jelaskan cara FDR Lion Air ditemukan

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2018